Di Balik Hilangnya
Pepsi dari Gerai Minimarket
Ada yang janggal dari jajaran minuman ringan yang
dipajang di etalase beberapa convenience store yang Tirto datangi. Merek
minuman Pepsi hilang dari peredaran. Setidaknya, ini tergambar dari tiga
convenience store di kawasan Kemang Timur, Jakarta Selatan.
Di gerai Indomaret, merek Pepsi yang biasa dijual
dalam bentuk kalengan dan juga botol plastik besar ukuran 1,5 liter sudah tidak
ada lagi. Rak minuman ringan jenis soda memajang berbagai merek minuman kecuali
Pepsi.
Ada yang janggal dari jajaran minuman ringan yang
dipajang di etalase beberapa convenience store yang Tirto datangi. Merek
minuman Pepsi hilang dari peredaran. Setidaknya, ini tergambar dari tiga
convenience store di kawasan Kemang Timur, Jakarta Selatan.
Di gerai Indomaret, merek Pepsi yang biasa dijual
dalam bentuk kalengan dan juga botol plastik besar ukuran 1,5 liter sudah tidak
ada lagi. Rak minuman ringan jenis soda memajang berbagai merek minuman kecuali
Pepsi.
Pun demikian dengan botol plastik besar, hanya
memajang Big Cola dan Big Stroberi ukuran 3,1 liter yang dijual dengan harga
Rp19.900 per botol.
Menghilangnya merek Pepsi berbagai ukuran ini
menurut salah satu pramuniaga sudah berlangsung sekira tiga bulan lamanya.
“Produk Pepsi datangnya jarang dan kalau datang juga
barangnya sedikit. Udah lama sih enggak ada,” jelas Nanang, bukan nama
sebenarnya, salah seorang pramuniaga gerai Indomaret di Kemang Timur yang Tirto
temui.
Sengketa
Pepsi dengan Indofood
Absennya merek Pepsi dari peredaran minuman ringan
jenis soda siap minum tak bisa lepas dari Indofood, produsen sekaligus
distributor Pepsi di Indonesia.
Hubungan PepsiCo dan Indofood merenggang sejak 2017,
terkait mundurnya PT Perusahaan Perkebunan London Sumatra Indonesia Tbk
(Lonsum) yang merupakan anak usaha IndoAgri, perusahaan terafiliasi Indofood
dari penerapan sertifikasi minyak sawit berkelanjutan atau Roundtable of
Sustainable Palm Oil (RSPO).
Anak usaha IndoAgri yang terafiliasi dengan Indofood,
Lonsum, diduga melakukan 23 pelanggaran prinsip dan kriteria industri
perkebunan sawit, mulai dari kondisi pekerja, risiko kesehatan, diskriminasi
gender pekerja, sampai dengan pekerja anak.
Atas hal ini, PepsiCo menyatakan kekecewaannya.
PepsiCo beserta perusahaan patungan yang didirikan bersama Indofood memutuskan
untuk tidak lagi menggunakan minyak kelapa sawit dari IndoAgri, induk usaha
Lonsum.
“Kami sangat kecewa mengetahui upaya IndoAgri untuk
menarik PT Lonsum dari RSPO. Ini tidak dapat diterima dan tidak konsisten
dengan kebijakan dan komitmen kami tentang minyak sawit berkelanjutan,” ungkap
Juru Bicara PepsiCo melansir FoodNavigator-Asia.
Juru Bicara PepsiCo juga menyatakan belum
mengungkapkan rincian tentang masa depan terkait perusahaan kerja sama yang ada
di Indonesia bersama Indofood. Sebagai penyegar ingatan, PT Indofood CBP Sukses
Makmur Tbk melakukan akuisisi terhadap PT Pepsi-Cola Indobeverages di tahun
2013 dengan nilai $30 juta setara Rp 300 miliar dengan kurs yang berlaku saat
itu.
Direktur PT Indofood Sukses Makmur Franciscus
Welirang maupun Sekretaris Perusahaan PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk Gideon
Putro belum memberikan tanggapan terhadap pertanyaan yang Tirto ajukan terkait
Pepsi.
"Sorry, saya tidak ikuti," kata Franciscus
Welirang, singkat. Sementara pesan dari Tirtotidak dibalas oleh Gideon.
Melansir Kompas.com, Pepsi-Cola Indobeverages (PCIB)
merupakan perusahaan patungan antara PT Gapura Usahatama (perusahaan yang masih
terafiliasi dengan Salim Group) dengan Seven-Up Nederland BV yang merupakan
perusahaan aviliasi PepsiCo, yang bergerak di bidang penjualan non-alkohol
dengan merek dagang Pepsi, 7Up, dan Tropicana Twister, dan masih banyak lagi.
Sejumlah gerai KFC kini tak lagi mendapat suplai
dari Pepsi, sementara manajemen coca-cola menyebut adanya kerjasama untuk
memasok produk ke waralaba ayam goreng tersebut.
Jika Anda pergi ke gerai KFC di BSD Plaza, Tangerang
Selatan, untuk memesan Lychee Float, jangan heran dengan jawaban pramusaji yang
ada di balik kasir. Ia mungkin bakal meminta Anda memilih menu lain karena
bahan baku minuman tersebut sudah tak tersedia.
Di papan menu, minuman karbonasi itu tersemat
tulisan SOLD OUT. Pepsi, kata sang pramusaji, tak akan lagi mensuplai bahan
baku untuk restoran tersebut. Beberapa gerai KFC bahkan dikabarkan mulai
mengubah minuman bersoda mereka dengan Coca-cola.
Bagi sebagian penggemar Pepsi Blue, kabar itu
mungkin mengejutkan sekaligus mengecewakan. Selain murah, minuman itu juga
punya ciri khas tersendiri baik dari sisi tampilan maupun rasanya.
Apalagi, dalam Laporan keuangan PT Fast Food
Indonesia (FAST)—perusahaan pemegang merek KFC di Indonesia—Pepsi masih terikat
perjanjian suplai eksklusif untuk waralaba ayam goreng tersebut.
Dalam kontrak yang ditandatangani pada 12 Januari
2018, PepsiCo, Inc punya kewajiban memasok Carbonated Soft Drink, sirup hingga
produk minuman kemasan yang dijual oleh KFC.
"Perjanjian tersebut telah diperpanjang sampai
dengan tanggal 30 September 2023," tulis manajemen," dalam laporan
keuangan FAST semester I/2019.
Saat dikonfirmasi Tirto, GM Marketing PT Fast Food
Indonesia, Hendra Yuniarto juga tak memberikan jawaban. Ia mengaku belum bisa
mengkonfirmasi informasi tersebut. "Apabila ada update lebih lanjut akan
kami kabari ya Mas," katanya melalui pesan singkat. Baca juga: Di Balik
Hilangnya Pepsi dari Gerai Minimarket
Tak hanya di KFC, Pepsi juga kian sulit ditemui di
beberapa minimarket di Jakarta. Tiga convenience store di kawasan Kemang Timur,
Jakarta Selatan, misalnya, tak lagi menjual Pepsi dalam bentuk kalengan dan
juga botol plastik besar ukuran 1,5 liter.
“Produk Pepsi datangnya jarang dan kalau datang juga
barangnya sedikit. Udah lama sih enggak ada,” jelas Nanang (bukan nama
sebenarnya), salah seorang pramuniaga gerai Indomaret di Kemang Timur.
Kabar lain soal hilangnya PepsiCo juga datang dari
Coca-Cola Indonesia--pesaing Pepsi di pasar minuman soda di Indonesia.
Marketing Manager Coca-Cola Indonesia Fauziah Ririen
membenarkan bahwa pihaknya telah menjalin kerjasama dengan KFC untuk mensuplai
minuman pengganti Pepsi.
Namun, baru beberapa gerai KFC yang kini menyediakan
Coca-Cola. "Kami ada rencana kerjasama lebih lanjut," ungkapnya saat
ditemui Tirto di South Quarter Dome, Cilandak Jakarta Selatan, Sabtu pekan lalu
(21/9/2019). Baca juga: BKPM Pastikan Pepsi Masih Berinvestasi di Indonesia
Ririen enggan menjelaskan kapan dan bagaimana mana
model kerjasama tersebut. "Tunggu manajemen KFC saja yang beri
penjelasan," tuturnya.
Seperti diketahui, saat ini Coca-cola juga merupakan
supplier utama untuk McDonald Indonesia yang beroperasi di bawah PT Rekso
Nasional Food.
Dalam laporan keuangannya, Coca-cola optimistis
pasar minuman karbonasi di Indonesia masih cukup menjanjikan dalam jangka
panjang. Di antaranya karena pertumbuhan yang kuat: Indonesia diperkirakan
menjadi yang terbesar keempat di duniaekonomi pada tahun 2050; PDB per kapita
yang meningkat 12 persen per tahun sejak 2000; meningkatnya populasi usia muda
hingga konsumsi pribadi telah tumbuh 13 persen per tahun sejak tahun 2000.
“Di Indonesia, kami didorong oleh pertumbuhan volume
kami sampaikan sejak April 2018 dan akan terus melakukan akselerasi serta
mengubah strategi dengan menambah pengeluaran pemasaran untuk diinvestasikan
dalam 2019,” tulis manajement Coca-Cola Amatil (tirto.id - Bisnis) Reporter: Hendra Friana
Penulis: Hendra Friana Editor: Nurul Qomariyah Pramisti
Pun demikian dengan botol plastik besar, hanya
memajang Big Cola dan Big Stroberi ukuran 3,1 liter yang dijual dengan harga
Rp19.900 per botol.
Menghilangnya merek Pepsi berbagai ukuran ini
menurut salah satu pramuniaga sudah berlangsung sekira tiga bulan lamanya.
“Produk Pepsi datangnya jarang dan kalau datang juga
barangnya sedikit. Udah lama sih enggak ada,” jelas Nanang, bukan nama
sebenarnya, salah seorang pramuniaga gerai Indomaret di Kemang Timur yang Tirto
temui.
Absennya minuman ringan merek Pepsi juga terjadi di
gerai Alfamart dan Circle K. Sudah sekitar tiga bulan sampai dengan lebih dari
dua belas bulan, merek Pepsi absen dari jajaran produk minuman. Bahkan, di
salah satu gerai Alfamart yang Tirtodatangi, merek Pepsi sudah dicoret dari
daftar rak barang.
Ini menandakan, absennya barang sudah terlalu lama
sehingga gerai memutuskan untuk mengisi kekosongan rak Pepsi dengan merek
lainnya.
“Di Alfamart rata-rata sama, sudah tidak ada barang
datang kira-kira tiga bulan lalu. Terakhir datang, barang sedikit cuma
satu-dua, setelah itu enggak ada lagi. [Pepsi] di rak juga sudah enggak masuk
di tatanan karena sudah lama barangnya enggak ada,” ucap Ayu, bukan nama
sebenarnya, seorang store display Alfamart yang Tirto temui.
Sedangkan di Circle K, absennya Pepsi sudah
berlangsung lebih lama, lebih dari satu tahun terakhir. Berbagai minuman ringan
siap minum jenis soda terpampang manis di etalase kaca Circle K, kecuali Pepsi.
Menurut salah satu pramuniaga yang Tirtotemui, merek Pepsi sudah tidak
menyuplai barang lagi di gerai tersebut.
Tirto pun berusaha mencari minuman Pepsi di
setidaknya empat toko kelontong dan agen yang agak besar. Hasilnya pun sama:
nihil.
Merek minuman ringan jenis soda lainnya seperti Coca
Cola, Sprite, Fanta dan Fanta Orange, 7Up, Root Beer, Green Sand, dan
sebagainya, masih mudah ditemui mulai dari toko kelontong sampai dengan
convenience store.
Berusaha mencari tahu mengenai penyebab hilangnya
merek Pepsi dari jajaran minuman ringan siap minum, Tirto menghubungi beberapa
manajemen jaringan ritel, salah satunya adalah PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk,
pemilik jaringan ritel Alfamart.
Kepada reporter Tirto, manajemen Alfamart menyebut
bahwa pihaknya belum mendapat keterangan resmi dari pihak distributor maupun
produsen mengenai ketersediaan minuman merek Pepsi di Indonesia.
“Sejauh ini kami belum mendapat keterangan resmi apa
pun dari pihak produsen dan distributor Pepsi di Indonesia, yang distribusinya
melalui PT Indofood,” jelas Solihin, Corporate Affairs Director Alfamart,
melalui sambungan telepon.
Solihin juga belum dapat memastikan keberadaan merek
Pepsi ke depannya. Lantaran ketidakjelasan inilah, gerai-gerai di Alfamart
terpaksa mencoret merek Pepsi dari jajaran raknya. Ini karena, penempatan atau
display sebuah produk dalam etalase gerai, memiliki hitungan dan prioritas.
Jelasnya begini: sebuah barang atau produk bisa
ditempatkan di rak sebuah convenience store berkaitan dengan hitungan buffer
stock barang atau ketersediaan barang. Jika stok barang tidak ada untuk jangka
waktu yang tidak bisa ditentukan, maka gerai convenience store pun harus
memanfaatkan kavling rak tersebut untuk barang lain yang tersedia dan
mendatangkan nilai jual.
Sebagai salah satu jaringan ritel modern, Alfamart
melakukan evaluasi terhadap produk-produk yang dijual setidaknya setiap tiga
bulan sekali. Evaluasi tersebut dilakukan terhadap seluruh produk barang.
Secara garis besar, evaluasi mencerminkan performa
penjualan sebuah produk. Ini sekaligus mencerminkan apakah konsumen menyukai
produk tersebut atau tidak. Hasilnya, jika evaluasi dinilai baik, maka sebuah
produk bisa mendapat display di rak.
Minimarket seperti Alfamart yang memiliki tempat
penjualan atau sales spaceterbatas, mengharuskan display setiap produk di
setiap rak dimaksimalkan sedemikian rupa. Dengan begitu, tentu memprioritaskan
barang yang memiliki stok serta diminati oleh konsumen.
“Sehingga tetap bisa memenuhi berbagai macam
kebutuhan konsumen,” jelas Nur Rachman, Corporate Communication GM Alfamart
kepada reporter Tirto melalui aplikasi pesan instan.
Setali tiga uang, Wiwiek Yusuf, Marketing Director
PT Indomarco Prismatama yang merupakan jaringan ritel waralaba Indomaret,
mengungkapkan ada dua sebab sebuah produk absen di etalase gerai. Pertama,
karena potensi sales atau penjualan barang tersebut kecil.
Penulis: Dea Chadiza
Syafina
Editor: Nurul Qomariyah Pramisti
Cr:
https://tirto.id/di-balik-hilangnya-pepsi-dari-gerai-minimarket-eizs
Suplai Pepsi di KFC Mulai Berkurang, Akan Diganti
Coca-Cola?
Sejumlah gerai KFC kini tak lagi mendapat suplai
dari Pepsi, sementara manajemen coca-cola menyebut adanya kerjasama untuk
memasok produk ke waralaba ayam goreng tersebut.
Jika Anda pergi ke gerai KFC di BSD Plaza, Tangerang
Selatan, untuk memesan Lychee Float, jangan heran dengan jawaban pramusaji yang
ada di balik kasir. Ia mungkin bakal meminta Anda memilih menu lain karena
bahan baku minuman tersebut sudah tak tersedia.
Di papan menu, minuman karbonasi itu tersemat
tulisan SOLD OUT. Pepsi, kata sang pramusaji, tak akan lagi mensuplai bahan
baku untuk restoran tersebut. Beberapa gerai KFC bahkan dikabarkan mulai
mengubah minuman bersoda mereka dengan Coca-cola.
Bagi sebagian penggemar Pepsi Blue, kabar itu
mungkin mengejutkan sekaligus mengecewakan. Selain murah, minuman itu juga
punya ciri khas tersendiri baik dari sisi tampilan maupun rasanya.
Apalagi, dalam Laporan keuangan PT Fast Food
Indonesia (FAST)—perusahaan pemegang merek KFC di Indonesia—Pepsi masih terikat
perjanjian suplai eksklusif untuk waralaba ayam goreng tersebut.
Dalam kontrak yang ditandatangani pada 12 Januari
2018, PepsiCo, Inc punya kewajiban memasok Carbonated Soft Drink, sirup hingga
produk minuman kemasan yang dijual oleh KFC.
"Perjanjian tersebut telah diperpanjang sampai
dengan tanggal 30 September 2023," tulis manajemen," dalam laporan
keuangan FAST semester I/2019.
Saat dikonfirmasi Tirto, GM Marketing PT Fast Food
Indonesia, Hendra Yuniarto juga tak memberikan jawaban. Ia mengaku belum bisa
mengkonfirmasi informasi tersebut. "Apabila ada update lebih lanjut akan
kami kabari ya Mas," katanya melalui pesan singkat. Baca juga: Di Balik
Hilangnya Pepsi dari Gerai Minimarket
Tak hanya di KFC, Pepsi juga kian sulit ditemui di beberapa
minimarket di Jakarta. Tiga convenience store di kawasan Kemang Timur, Jakarta
Selatan, misalnya, tak lagi menjual Pepsi dalam bentuk kalengan dan juga botol
plastik besar ukuran 1,5 liter.
“Produk Pepsi datangnya jarang dan kalau datang juga
barangnya sedikit. Udah lama sih enggak ada,” jelas Nanang (bukan nama
sebenarnya), salah seorang pramuniaga gerai Indomaret di Kemang Timur.
Kabar lain soal hilangnya PepsiCo juga datang dari
Coca-Cola Indonesia--pesaing Pepsi di pasar minuman soda di Indonesia.
Marketing Manager Coca-Cola Indonesia Fauziah Ririen
membenarkan bahwa pihaknya telah menjalin kerjasama dengan KFC untuk mensuplai
minuman pengganti Pepsi.
Namun, baru beberapa gerai KFC yang kini menyediakan
Coca-Cola. "Kami ada rencana kerjasama lebih lanjut," ungkapnya saat
ditemui Tirto di South Quarter Dome, Cilandak Jakarta Selatan, Sabtu pekan lalu
(21/9/2019). Baca juga: BKPM Pastikan Pepsi Masih Berinvestasi di Indonesia
Ririen enggan menjelaskan kapan dan bagaimana mana
model kerjasama tersebut. "Tunggu manajemen KFC saja yang beri
penjelasan," tuturnya.
Seperti diketahui, saat ini Coca-cola juga merupakan
supplier utama untuk McDonald Indonesia yang beroperasi di bawah PT Rekso
Nasional Food.
Dalam laporan keuangannya, Coca-cola optimistis
pasar minuman karbonasi di Indonesia masih cukup menjanjikan dalam jangka
panjang. Di antaranya karena pertumbuhan yang kuat: Indonesia diperkirakan
menjadi yang terbesar keempat di duniaekonomi pada tahun 2050; PDB per kapita
yang meningkat 12 persen per tahun sejak 2000; meningkatnya populasi usia muda
hingga konsumsi pribadi telah tumbuh 13 persen per tahun sejak tahun 2000.
“Di Indonesia, kami didorong oleh pertumbuhan volume
kami sampaikan sejak April 2018 dan akan terus melakukan akselerasi serta
mengubah strategi dengan menambah pengeluaran pemasaran untuk diinvestasikan
dalam 2019,” tulis manajement Coca-Cola Amatil.
Reporter: Hendra Friana Penulis: Hendra Friana Editor: Nurul
Qomariyah Pramisti
Komentar
Posting Komentar